Jalan-jala ke luar negeri, sebelumnya hanya menjadi angan-angan buat saya. Sudah sejak SD saya punya mimpi ingin bisa pergi melihat seperti apa luar negeri itu, entah ke negara mana. Saya masih ingat, dulu ketika masih kelas 3 SD, saya suka sekali menonton sebuah acara kuis di salah satu stasiun televisi swasta, nama acaranya kalau gak salah kuis Penjelajah Dunia. Kuis yang ditujukan untuk peserta anak sekolah itu berisi pertanyaan dan gams seputar negara-negara di dunia, bisa nama ibukota, nama negara, bendera negara dan sebagainya. Itulah awal pertama saya tahu sedikit seperti apa itu negara-negara diluar negeri sana, ditambah lagi sejak kelas 4 SD, saya mulai suka dengan salah satu tim sepak bola dari Inggris sampai saat ini, Manchester United tentunya dan sejak saat itu, punya mimpi suatu saat nanti bisa nonton pertandingannya secara langsung di stadion kebanggaan MU, Old Trafford di kota Manchester.

Sejak saya mulai bekerja, entah kenapa keinginan ntuk bisa jalan-jalan keluar negeri semakin menjadi-jadi. Seringnya saya membaca buku bertema backpacker keluar negeri dan juga sering adanya promo maskapai penerbangan keluar negeri membuat saya sering kali saya iseng coba booking beberapa tiket pesawat ke beberapa tujuan di luar negeri (tidak sampai bayar tentunya hehe) untuk mengetahui kira-kira berapa biaya yang dibutuhkan untuk kesana.

Berawal dari sebuah obrolan dengan salah seorang teman saya, Benny namanya, kita berencana pergi keluar negeri di tahun 2015 kalau ada tiket pesawat murah, hingga pada suatu hari, tiba-tiba dia minta foto KTP saya, ternyata dia baru saja menemukan tiket murah ke Singapura untuk akhir bulan Oktober dan akhirnya dibookinglah tiket kesana untuk 6 orang (beserta rekan kerja yang lain). Saya yang bercerita mengenai hal ini ke cewek saya malah membuat dia tertarik juga ingin ikut, setelah saya cek, ternyata untuk penerbangan yang sama masih tersedia beberapa kursi dengan harga yang sama. Maka akhirnya saya booking 2 tiket lagi untuk cewek saya dan 1 lagi teman saya seharga 600 ribu PP untuk 1 orang, harga yang murah menurut saya. Jadilah kita ber delapan pergi ke singapura tangga 28 Oktober 2015, meskipun pada akhirnya hanya 7 orang yang berangkat karena 1 orang batal berangkat karena suatu alasan.

Kami booking tiket pesawat sekitar 6 bulan sebelum keberangkatan, jadi masih punya banyak waktu untuk menabung buat uang saku dan keperluan lain, hehe. Meskipun punya banyak waktu sebelum berangkat, saya justru baru membuat paspor sekitar 2 minggu sebelum berangkat, dasar pemalas hehe, untuk pembuatannya hanya membutuhkan waktu 3 hari kerja. Setelah semua keperluan sudah dipersiapkan (tiket, paspor dan booking hotel), tibalah hari keberangkatan menuju kesana. Kami berenam berangkat dari Bogor menuju ke Soekarno Hatta, kecuali cewek saya yang berangkat dari Jakarta. Janjian pagi-pagi di pool bus Damri justru saya malah telat berangkat kesana sehingga membuat teman-teman yang lain lama menunggu, saya jadi gak enak waktu itu,sorry ya guys.. 😦

Setelah melewati sekitar 1,5 jam perjalanan dengan bus damri, kita sampai di terminal 3 Soekarno Hatta, ternyata cewek saya sudah sampai duluan disana. Setelah mengenalkannya ke teman-teman saya, kita lanjut masuk kedalam bandara. Waktu itu masih sekitar pukul 8 pagi, jadi kita masih punya waktu 2 jam lebih sebelum pesawat berangkat, jadinya kita gunakan waktu itu untuk sarapan terlebih dahulu.

IMG20151028095811
Foto dulu di Bandara Soekarno-Hatta

Mendekati waktu take off, kita mulai check in dan pindah ke ruang tunggu keberangkatan. Setelah mendengar pengumuman dari pihak maskapai, kita menuju ke shuttle bus yang akan mengantar menuju lokasi parkir pesawat. Turun dari bus, kita langsung naik pesawat, cari lokasi tempat duduk and we were ready to take off. Alhamdulillah pesawat berangkat tepat waktu, dan seperti ketika naik pesawat ke Jogja beberapa bulan sebelumnya, saya dan cewek saya selalu dapat tempat duduk yang dekat dengan sayap pesawat, entahlah, mungkin kami berjodoh dengan lokasi duduk tersebut, hehe.

DSC00135
Awan dimana-mana

Kesan pertama naik maskapai milik Pak Tony Fernandes itu ternyata pesawatnya cukup nyaman, penerbangan juga lancar, take off dan landing juga sama mulusnya, tidak kalah dengan Garuda Indonesia yang saya tumpangi beberapa waktu sebelumnya ketika ke Jogja. Padahal sebelumnya saya sedikit agak kurang yakin dengan kenyamanan pesawat dari maskapai jenis LCC seperti Air Asia ini, terlebih lagi beberapa bulan sebelumnya kita dihebohkan dengan jatuhnya pesawat Air Asia yang juga bertujuan ke Singapura waktu itu, tapi angaapan seperti itu hilang setelah saya menaiki pesawat ini dan sekitar 2 jam, kita akhirnya mendarat dengan mulus di Changi International Airport setelah melewati perjalanan yang sangat lancar ditemani langit yang sangat cerah waktu itu.

Bandara kebanggaan rakyat Singapura ini sangat luar biasa menurut saya, bersih, megah, tertib, interiornya bagus, persis seperti yang dikatakan orang-orang mengenai bandara ini, sehingga menarik bagi kami untuk berfoto-foto sebentar di bandara ini, hehe. Beberapa saat kita berjalan, akhirnya menemukan bagian imigrasi, sambil mengantri saya mulai menyiapkan paspor dan lain-lain dan alhamdulillah kami semua bisa melewati bagian imigrasi dengan lancar.

IMG-20151029-WA0045
Wih, sampai juga akhirnya

Untuk keluar dari bandara menuju Kota Singapura, kita bisa menuju ke stasiun MRT Changi Airport yang terletak di lantai dasar antara terminal 2 dan 3 bandara Changi. Karena untuk pesawat maskapai LCC yang menuju Singapura turunya di terminal 1, maka kami harus berpindah dulu ke terminal yang dekat dengan stasiun MRT Changi Airport. Untungnya, di bandara ini disediakan kereta kecil yang dapat ditumpangi secara gratis untuk menuju terminal tujuan termasuk untuk menuju ke Stasiun MRT Changi Airport, atau kereta ini biasa disebut dengan nama Skytrain.

DSC00148
Inside the Skytrain, cuma Shelly yang sadar kamera sepertinya, hehe

Memang salah satu cara paling hemat untuk jalan-jalan ke beberapa tempat di Singapura adalah menggunakan MRT ini, kereta bawah tanah yang canggih ini juga tepat waktu dan stasiunnya juga terkesan begitu futuristik, semoga Indonesia segera memiliki alat transportasi massal seperti ini untuk menanggulangi macet, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.

Untuk memudahkan dalam menaiki MRT ini, saya membeli kartu EZ Link seharga USD 30 kalau tidak salah yang berisi saldo USD 25 sehingga tidak perlu repot-repot membeli tiket tiap kali mau naik MRT, selama saldonya masih ada tentunya, hehe. Selain itu, kartu ini juga bisa digunakan untuk menaiki bus dan juga untuk membayar di toko semacam Seven Eleven, atau kalau di Indonesia kartu ini sejenis kartu Flash yang dikeluarkan oleh BCA dan kartu-kartu sejenisnya.

Ada salah satu hal yang membuat saya benar-benar salut terhadap warga Singapura setelah menaiki MRT dan keluar stasiun, warga disini sangat menjunjung tinggi ketertiban dan sangat menghargai hak penumpang lain. Untuk masuk kedalam keretanya saja, tidak ada penumpang yang akan berdiri di depan pintu kereta sambil menunggu pntu terbuka, melainkan mereka akan berdiri di samping pintu sehingga ketika pintu terbuka, penumpang dari dalam kereta bisa leluasa keluar tanpa terhalang penumpang yang akan masuk, meskipun jumlah penumpangnya tidak terlalu banyak. Selain itu, ketika hendak naik turun menggunakan eskalator, tangga berjalan yang cukup digunakan untuk berdiri 2 orang secara berdampingan di kanan kiri, pasti bagian di sebelah kanan akan selalu dikosongkan, sehingga bagian kanan bisa digunakan untuk mereka yang terburu-buru. Jadi meskipun ada 2 orang yang jalan bergandengan tangan, ketikanaik eskalator, mereka akan langsung berdiri di sebelah kiri seperti orang berbaris satu-satu, luar biasa memang, untuk hal seperti itu saja, sangat diperhatikan oleh mereka. Bagi saya yang baru pertama kali kesini, langsung merasa takjub melihat hal seperti itu, ternyata ketertiban di negara ini lebih dari yang saya bayangkan sebelumnya, mungkin hal semacam ini sudah menjadi budaya masyarakat negara maju.

Bersambung…

Iklan