Lanjutan postingan sebelumnya…

Dari Stasiun Changi, kami akan naik MRT menuju ke stasiun Bugis, kawasan dimana hostel tempat kita menginap. Dari Stasiun Changi, kita turun dulu di Stasiun Tanah Merah, dan melanjutkannya ke Stasiun Bugis. Keluar dari stasiun, kami sempat bingung juga muter-muter kawasan Bugis untuk mencari dimana lokasi hostel berada. Setelah melihat peta, akhirnya kita bisa sampai di kawasan Arab Street dan menemukan Sultan Mosque disana, dan tidak jauh dari situ, kami menemukan hostel tempat kami menginap. Ketika jalan dari Stasiun Bugis menuju hostel juga banyak hal menarik yang saya lihat, masih berhubungan dengan ketertiban masyarakat Negeri Singa itu, salah satunya ketika hendak menyebrang jalan, sejauh yang saya lihat, mereka selalu menyebrang melalui zebra cross, tidak hanya itu, sebelum menyebrang jalan, mereka selalu menunggu lampu tanda jalan berwarna hijau, bukan bersdasarkan ada tidaknya kendaraan yang lewat. Jadi, meskipun jalanan sepi, tapi wana lampu penyeberangan belum hijau, mereka tidak akan menyebrang, hal yang sangat luar biasa bagi saya yang sering melihat ketidaktertiban pengguna jalan di Indonesia, termasuk saya sendiri pelakunya, hehe.

DSC00154
Hostel Green Kiwi 
DCIM100MEDIA
Foto dari jendela kamar hostel

Oke, setelah menaruh barang bawaan kami langsung mulai jalan-jalan kami menelusuri Kota Singapura. Karena waktu sudah menunjukkan sholat ashar, kami sholat ashar dulu di Sultan Mosque. Masjid yang diklaim sebagai masjid terbesar di Singapura ini ternyata tidak terlalu besar, mungkin seukuran dengan masjid di kampung-kampung yang ada di Indonesia dan satu hal lagi, baru kali ini saya bisa mengambil air wudhu sambil duduk karena memang disediakan tempat duduk disana, hehe.

_MG_4823
Narsis dulu didepan Sultan Mosque

Oh ya, sebelum melanjutkan jalan-jalan, jangan lupa isi air minum dulu di kran air minum gratis yang tersedia di sekitar masjid ini, lumayan menghemat air minum, air minum kemasan disana mahal oi, hehe. Tujuan pertama yang akan kami tuju tentu saja ikon Singapura, apalagi kalau bukan patung singa muntah alias Merlion. Kami kesana naik MRT dari Stasiun Bugis menuju Stasiun Rafless Place. Dari stasiun ini agak jauh memang untuk menuju Merlion Park, tapi bisa jalan-jalan dulu sebelum menuju kesana. Kalau mau beli Es Krim Singapura juga ada yang jual di sekitar jalan ini, yang jualan mirip pedagang kaki lima gitu. Waktu kami beli, yang jualan adalah pasangan kakek nenek, mereka agak kesulitan pakai bicara Bahasa Inggris karena ketika mereka ngobrol satu sama lain, mereka memakai Bahasa Mandarin, hehe.

IMG-20151029-WA0029
Meskipun warna airnya agak kehijauan, tapi sungainya bersih

Kebanyakan foto-foto dijalan ternyata hari sudah mulai gelap, hehe. Akhirnya kita sampai di patung Merlion sekitar pukul 6 sore waktu Singapura. Tapi jalan-jalan kesini ketika sore hari ada untungnya juga, cuaca jadi tidak terlalu panas dan pemandangan disekitar terlihat lebih menarik ketika lampu-lampu malam sudah dinyalakan. Pembacaan waktu di Singapura sepertinya dipercepat 1 jam dibandingkan daerah Jakarta dan sekitarnya. Meskipun sudah menunjukkann pukul 6 sore, langit ternyata masih terlihat terang, seperti pukul 5 sore kalau di Indonesia. Kegiatan disini lebih banyak dihabiskan untuk foto-foto kesana kemari sampai pegel rasanya kaki ini, hehe.

_MG_4909
Marina Bay Sands
DSC00200
Merlion kala senja

Puas menikmati pemandangan di Merlion Park, tujuan kami berikutnya adalah Gardens By the Bay. Saya lupa waktu itu menuju kesana naik MRT dari stasiun mana, yang pasti jalan menuju stasiunnya agak jauh. Untuk menuju kesana, kami turun di Stasiun Bayfront. Stasiun ini lokasinya dekat dengan Marina Bay Sands. Bangunan tinggi dengan 3 tower dan memiliki bangunan menyerupai kapal diatasnya. Sebenarnya saya punya rencana untuk masuk ke lantai atas bangunan ini untuk melihat pemandangan kota Singapura dari atas, hanya saja saya kurang tau cara masuk kesana dengan gratis hehe. Dalam perjalanan dari stasiun menuju Gardens by The Bay, kita bisa melihat gedung ini dari dekat, terlihat sangat megah melihat gedung ini dari bawah.

Menuju ke Garden By the Bay kita akan melewati taman dengan cukup banyak pepohonan, sampai di lokasi, kita akan melihat banyak sekali pohon-pohon besar warna warni, sebenarnya ini bukan poho melainkan bangunan tinggi yang sekilas mirip dengan pohon darah naga ini (Dragon Blood Tree) dihiasi dengan lampu warna warni yang bergati warna tiap beberapa detik. Dari atas “pohon” juga terbentang jembatan yang menghubungkan tiap “pohon”, hanya saja untuk bisa kesana harus membayar tiket. Memang waktu yang tepat kesini adalah malam hari, karena pemandangan disini terlihat lebih cantik dengan lampu warna-warni yang menghiasi malam.

DSC00263
Garden by The Bay

Malam semakin larut, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hostel. Ketika melewati taman menuju stasiun, terdengar suara musik yang tidak asing di telinga, ternyata itu adalah suara angklung. Di taman ini ternyata ada sebuah gubuk yang disitu sedang diputar tayangan mengenai angklung dan terdapat beberapa bule disana. Agak aneh sebenarnya, kenapa di Singapura, diputar musik angklung yang justru berasal daeri Indonesia, apalagi di tempat wisata seperti ini. Tidak jelas apa yang dikatakan narator dalam video itu karena saya melihatnya dari kejauhan, semoga saja disitu juga dijelaskan kalau angklung berasal dari Indonesia.

Untuk pulang kembali ke hostel, kami naik MRT lagi dari Bayfront yang langsung menuju Stasiun Bugis. Sebenarnya banyak waktu yang cukup terbuang ketika kami handak menaiki MRT karena harus muter-muter terlebih dahulu di dalam stasiun, maklum belum hafal jalurnya jadi harus cari peron yang tepat untuk naik kereta yang sesuai tujuan. Sepertinya, tiap kereta disini memakai jalur rel yang berbeda-beda tergantung tujuan sehingga peronnya ada banyak dan beda lantai, tidak seperti di Indonesia, ketika kita hendak menuju arah yang berbeda dari suatu stasiun KRL, kita hanya perlu menyebrang ke sebrang peron. Mungkin sistem MRT seperti ini yang pembuat perjalanan kereta menjadi lebih tepat waktu, (mungkin sih, saya juga kurang tau sebenarnya, tapi penasaran sengan sistem MRT disana, hehe).

Dari Stasiun Bugis, sebelum ke hostel kami makan malam telebih dahulu. Karena bingung mau makan apa dan disitu ada gerai Burger King, jadilah kami makan burger disitu. Entah kenapa burger terasa sangat enak waktu itu, mungkin karena saya lapar setelah seharian jala-jalan, hehe. Dalam perjalanan ke hostel, kami melewati kios-kios yangmenjual berbagai oleh-oleh, tidak banyakmalam itu karena sebagian sudah tutup. Kami akhirnya membeli beberapa oleh-oleh termasuk saya. Sebelumnya saya kurang tertarik tapi setelah dibujuk oleh cewek saya, akhirnya ikutan beli juga, hehe. Kami berdua membeli 10 oleh-oleh berwujud tumbler yang cukup murah waktu itu tapi saya lupa harganya.

Sampai di hostel, kami saling antri mandi karena kamar mandi ada diluar kamar dengan jumlah terbatas, tapi setidaknya disini terdapat water heater yang bisa digunakan untuk melepaskan otot-otot yang kaku selepas jalan-jalan, hehe. sebelum tidur, sambil menyambungkan smartphone dengan wifi, ternyata muncul banyak pesan dari teman-teman yang minta oleh-oleh, terutama dari rekan kerja dan teman kuliah. entah sejak kapan muncul hubungan antara orang jalan-jalan dengan orang minta oleh-oleh, hehe. Sehari terasa sangat panjang sekali karena banyak kegiatan yang dilakukan, mulai dari pagi hari saya telat datang ke pool bus damri di Bogor, dan malam harinya saya tidur di hostel di Singapura.

Bersambung…

Iklan