Lanjutan postingan cerita Singapura..

Salah satu hal menyebalkan dan dihindari oleh orang yang berpergian naik pesawat adalah delay penerbangan, apalagi yang sampai berjam-jam. Hal itu juga terjadi pada kami yang akan melakukan penerbangan pulang ke Jakarta waku itu. Namun delay penerbangan waktu itu justru menjadi hal yang menguntungkan bagi kami. Penerbangan pulang kami seharusnya dilakukan pada jam 2 siang waktu setempat, hanya saja karena suatu hal, diundur menjadi sekitar jam 6 sore waktu setempat. Untung saja pihak Air Asia selaku maskapai pesawat yang kami gunakan sudah memberitahu kami melalui sms dan email sehari sebelum waktu take off, meskipun sebenarnya saya baru mengetahuinya pada malam hari sebelum tidur. Tentu saja hal ini membuat kami senang, selain kami seperti mendapat tambahan waktu untuk sekedar jalan-jalan disini, kami juga menjadi tidak terlalu terburu-buru berangkat menuju bandara. Dari hal tadi bisa dilihat bahwa ternyata suatu hal yang menyebalkan, justru bisa menjadi hal yang menguntungkan jika terjadi diwaktu yang tepat, meskipun saya yakin, dalam 1 rombongan penumpang  yang  mepunyai jadwal terbang yang sama bersama kami, tidak semuanya merasa diuntungkan karena hal ini.

Karena hari itu adalah hari terakhir kami di Singapura, setelah mandi, kami mulai merapikan barang-barang kami beserta oleh-oleh yang telah kami beli sebelumnya. Tas-tas yang kami bawa tampak lebih berat dibanding saat kami berangkat kesini bahkan sampai harus putar otak agar semua barang bisa masuk tas dan bisa diangkut pulang . Tas dan barang-barang yang telah kami rapikan selanjutnya dititipkan di tempat penitipan barang yang berada di lantai 1 hostel karena kami sudah tidak akan masuk kamar lagi setelah kami jalan-jalan hari itu. Menginap 2 hari disini terasa begitu singkat sekali, hehe.

“Sitting here wasted and wounded at this old piano…”

“Trying hard to capture the moment this morning I don’t know…”

Penggalan lirik dari lagu Bon Jovi berjudul Bed of Roses yang diputar di lobby hostel menemani waktu sarapan kami pagi itu. Masih seperti hari sebelumnya, sarapan roti bakar ditambah potongan buah-buahan ditemani secangkir milk tea, yummy.

Untuk mengisi hari terakhir kami di Singapura, kami akan mengunjungi beberapa tempat yang belum sempat kami kunjungi di hari sebelumnya, salah satunya adalah kawasan Little India. Perjalanan kami dimulai dengan menyusuri kawasan perbelanjaan yang tak jauh dari hostel, yaitu Bugis Street. Kami menuju kesana dengan berjalan kaki, agak santai pagi itu karena kami punya “injury time” dikarenakan penerbangan kami ke Jakarta kena delay. Bugis Street  merupakan daerah perbelanjaan yang bisa disebut sebagai pasar tradisionalnya Singapura, namun jangan bayangkan tempatnya kotor dan becek karena kios-kios disini tertata sangat rapi, teratur, bersih dan sangat tertib. Barang-barang yang dijual disini masih tidak jauh-jauh dari barang-barang sejenis oleh-oleh khas Singapura, namun selain itu juga ada barang-barang kebutuhan keseharian yang dijual disini, yang jual kartu SIM untuk ponsel juga ada.

DSC00423
Bugis Street di pagi hari
DSC00424
Suasana didalam pasar

Jalan kaki lebih jauh dari kawasan ini, kita akan menemukan pasar yang terdiri dari lapak-lapak pedagang yang didirikan di area outdoor . Berbeda dari tempat sebelumnya yang tempat jualan pedagang berupa kios, lapak pedagang disini hanya terdiri dari tenda-tenda sederhana dan barang-barang yang dijual cenderung bukan barang-barang turis lagi, kebanyakan yang dijual adalah barang-barang kebutuhan sehari-hari, mungkin tempat ini adalah pasar tradisionalnya warga lokal Singapura. Meskipun outdoor, tidak ada kendaraan bermotor dikawasan ini, mungkin karena sepanjang jalan disini merupakan kawasan pejalan kaki.

DSC00428
Wuih, ada batu akik juga
DSC00427
Ramai sekali kawasan ini

Melanjutkan perjalanan, kami melewati dua tempat ibadah dikawasan itu, Kwan Im Thong Hood Cho Temple yang merupakan vihara dan Sri Khrisnan Temple yang merupaka Kuil Hindu. Kedua tempat ibadah ini terletak bedekatan dan waktu itu terdapat cukup banyak jemaat yang sedang beribadah disana. Kedua tempat ibadah tadi mempunyai bentuk bangunan yang sangat khas. Untuk Kwan Im Thong Hood Cho Temple sendiri bentuk bangunannya tampak seperti kebanyakan vihara yang terdapat di Indonesia dengan bentuk bangunan khas negeri China. Sementara untuk Sri Khrisnan Temple mempunyai bentuk bangunan yang sangat unik dengan banyak terdapat patung dewa warna-warni yang menghiasi bagian luar kuil, mungkin bangunan ini dipengaruhi oleh budaya India sehingga mempunyai keunikan seperti itu dan memang terlihat dari sebagian besar jemaatnya yang berasal dari etnis India, belum pernah saya melihat yang seperti ini di Indonesia karena tempat ibadah umat Hindu di Indonesia memiliki keunikan tersendiri yang sepertinya tidak begitu dipengaruhi oleh bangunan khas India.

DSC00430
Kwan Im Thong Hood Cho Temple
DSC00433
Sri Khrisnan Temple tampak depan

Cukup jauh dan lama pagi itu kami berjalan kerena sepanjang jalan kami cukup lama menemukan stasiun MRT  yang akan kami tuju untuk kemudian naik MRT menuju Little India. Sebelum kami sampai di salah satu stasiun, ada sebuah tempat yang menarik perhatian kami untuk dikunjungi, tempat itu adalah sebuah museum, namun sayangnya pagi itu masih tutup jadi kami tidak bisa masuk. Sampai di salah satu stasiun MRT, dan siap-siap akan tap in tiket danmemasuki peron, saya menyadari kalau ternyata ada yang kurang dari isi tas saya, Kartu EZ Link saya tidak ada!!!, jeng.. jeng.., setelah saya cari dan dipastikan tidak ada, saya baru ingat kalau saya memakai tas yang berbeda dengan tas yang saya pakai jalan-jalan kemarin, jadi kartu EZ Link masih berada di tas yang saya tinggal di hostel, bagaimana bisa saya lupa bawa kartu tersebut sedangkan barang-barang lain saya bawa semua, begitu teledor saya waktu itu. Setelah saya bertanya di bagian pusat informasi ternyata untuk naik MRT, selain memakai karrtu EZ Link bisa juga menggunakan tiket harian atau kalau di KRL Jabodetabek disebut dengan THB (Tiket Harian Berjangka). Tiket ini dijual melalui Vending Machine yang banyak terdapat di stasiun karena memang penjualan tiket disini tidak dilakukan secara manual. OK masalah teratasi hanya saja saya jadi repot karena harus membeli tiket dulu tiap akan naik MRT, sangat tidak praktis ketika dalam keadaan terburu-buru, setidaknya tidak banyak tempat yang akan kami kunjungi hari itu karena merupakan hari terakhir kami di Singapura.

Sesampainya di Stasiun MRT Little India, cuaca agak mendung dan sedikit gerimis waktu itu meskipun hanya sebentar. Kawasan Little India waktu itu sedang penuh dengan hiasan warna-warni karena sedang menyambut Deepavali Festival. Saya kurang begitu tau mengenai festival itu, tapi menurut Wikipedia, festival itu merupakan festival cahaya yang dirayakan oleh Etnis India disana, bisa jadi festival ini berasal dai negara India dan karena terdapat banyak etnis India di Singapura sehingga hal ini juga dirayakan disana.

Sesuai dengan namanya, kawasan ini begitu “India Banget”, “tau dari mana Dit?, kan belum pernah ke India..” Hehe, dibilang demikian karena selama muter-muter dikawasan ini yang dilihat kebanyakan adalah warga keturunan India yang sedang melakukan aktivitas masing-masing, malahan wisatawan mancanegara tidak terlalu banyak terlihat kala itu , selain itu banyak terdapat bangunan dengan gaya seperti Kuil SriKhrisnan yang saya ceritakan diatas  begitu berwarna dengan warna-warna yang mencolok, ditambah lagi dengan banyaknya pedangang bunga dan banyaknya ornamen untuk menyambut Deepavali Festival membuat kian berwarna kawasan Little India waktu itu. Tulisan dan papan informasi yang terdapat di berbagai bangunan juga banyak yang menggunakan Aksara Dewanagari yang juga digunakan di Negara India. Tapi anehnya, meskipun kawasan ini bisa dibilang sebagai miniaturnya India, selama jalan-jalan disana, malah tidak terdengar lagu-lagu Bollywood yang biasanya identik dengan India, mungkin mereka lebih suka lagu beraliran musik lain, hehehe.

DSC00435
Ini lukisan sapi atau kerbau, hehe

Berjalan melewati Buffalo Street, kita akanmenemui sebuah bangunan dengan lukisan abstrak berwujud kerbau (atau mungkin sapi) yang warna-warni, lumayan bagus lah kalau dibuat background untuk foto-foto seperti biasa, hehe. Mungkin karena lukisan ini, sehingga jalan disekitar sini dinamakan Buffalo Street, coba misalnya di dinding itu dilukis dengan gambar ikan cupang, kira-kira nama jalannya jadi apa ya, haha (Bahasa Inggrisnya ikan cupang apaan ya…)

Selain banyak ditemukan bangunan beraneka warna, disalah satu sudut kawasan ini juga terdapat sekelompok burung merpati yang dibiarkan berkeliaran bebas disana, cukup menarik bagi saya karena di Indonesia tidak pernah melihat hal semacam itu, kecuali di pasar burung, itupun ada pemiliknya, hehe. Singapura memang terkenal akan kebersihan lingkungan kotanya, tapi ternyata saya bisa menemukan sampah yang dibuang sembarangan di kawasan Little India ini, meskipun sangat sedikit tapi ternyata masih ada oknum tidak bertanggung jawab mengenai sampah di negara ini.

DSC00441
Ambil satu gak ketahuan kali ya
DSC00448
Hiasan patung dewa disalah satu bangunan

Salah satu kuil Hindu tertua di Singapura juga dapat kita temukan disini, yaitu Sri Veeramakaliamman Temple (kuil Hindu tertua di Singapura justru malah berlokasi di kawasan Chinatown, yaitu Sri Mariamman Temple). Layaknya kuil  Hindu lain di Singapura, Kuil Veeramakaliamman juga terdapat banyak ornamen berupa patung dewa-dewi yang menghiasi bagian luar bangunan ini dengan warna-warni yang sangat mencolok yang menurut saya kebanyakan dari patung dewa-dewi disana memiliki wajah yang cukup seram, hehe, mungkin itu penggambaran dari iblis menurut Agama Hindu. Meskipun tidak masuk kedalam, bagian dalam dari kuil ini masih bisa terlihat dari luar karena waktu itu kuil sedang dipakai untuk keperluan ibadah.

DSC00451
Sri Mariamman Temple, kuil Hindu yang penuh warna

Jalan raya didepan kuil ini juga dipenuhi dengan berbagai macam hiasan warna-warni yang membuat jalan raya tersebut tampak begitu semarak, bisa jadi karena dalam rangka menyambut Deepavali Festival sehingga terdapat banyak hiasan waktu itu. Mungkin kalau berkunjung kesini ketika sore atau malam hari, pemandangan disekitar sini akan lebih indah dengan banyaknya lampu hias yang menghiasi jalan. Little India sebenarnya menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi ketika jalan-jalan di Singapura, tapi karena penerbangan pulang kami mengalami penundaan, dengan sisa waktu yang kami punya kala itu, kami memutuskan untuk kembali mengunjungi Merlion Park untuk melihat kawasan itu di siang hari, namun sebelum kesana, ternyata kami harus berputar-putar dulu mencari stasiun MRT terdekat. Untungnya dipinggir jalan terdapat banyak penanda mengenai lokasi stasiun MRT terdekat sehingga tidak perlu nyasar untuk mencarinya, sangat membantu sekali informasi seperti ini, jadi tak perlu khawatir akan tersesat meskipun tanpa Google Maps. Google Maps, you have no power here, hahaha…

20151029_110846
ready for Deepavali festival

Sepanjang jalan menuju stasiun, seringkali tercium bau rempah-rempah yang sangat menyengat, mungkin itu berasal dari bau makanan atau sejenis sesajen yang terdapat di bangunan-bangunan disekitar sini, bau yang cukup asing karena belum pernah menciumnya sebelumnya, hehe. Setelah menemukan stasiun KRL, seperti sebelumnya saya menjadi yang paling repot diantara yang lain karena harus membeli tiket dulu di vending machine, tujuan kali ini adalah Stasiun Raffles Place, karena sebelum ke Merlion Park, kami akan jalan-jalan sebentar di kawasan itu. Berbeda dengan Little India yang lebih sepi, di kawasan ini tampak jauh lebih ramai dengan banyak orang berlalu-lalang karena tempat ini bisa dibilang salah satu sudut “kotanya” Singapura. Banyak juga terdapat gedung-gedung perkantoran dikawasan ini.

DSC00455
Seperti mainan bongkar pasang raksasa
DSC00464
Entah ini monumen apa sebenarnya???
DSC00477
Cuaca terik di sekitar Merlion Park
DSC00469
Beli air minum disini lebih murah

Jarak menuju Merlion Park ternyata cukup jauh dari kawasan ini, namum karena hari pertama kami sudah berkunjung kesini, jadinya sudah mulai hafal jalan menuju kesana sehingga tidak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk sampai disana. Siang itu cuaca cukup terik meskipun langit sedikit agak mendung, ternyata berkunjung kesini saat siang hari kurang direkomendasikan karena cuacanya cukup panas dan tidak banyak tempat untuk berteduh, jadilah kami hanya berfoto-foto saja disana, sambil sekali lagi, menikmati suasana Negeri Singa sebelum kami pulang kembali ke Jakarta. Cuaca semakin terik dan waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, maka kami memutuskan untuk kembali ke hostel dan mengambil barang bawaan kami yang dititipkan disana sebelum kami menuju ke Bandara. Sebelum menuju ke hostel, saya sempatkan dulu untuk membeli kartu pos sebagai kenang-kenangan yang banyak dijual di toko-toko sepanjang Bussorah Street. Setelah pamit dengan pegawai hostel, akhirnya kami akan kembali pulang ke Jakarta.

Perjalanan pulang ternyata terasa lebih berat dibanding ketika kami berangkat kesini, berat dalam artian harfiah karena beban tas saya semakin bertambah disebabkan adanya tambahan barang berupa oleh-oleh, sampai-sampai saya harus menggunakan tas yang saya beli disana untuk membawa barang-barang tambahan itu, sangat merepotkan ternyata, hehe. Sesaat sebelum kami sampai di Bandara Changi ternyata langit semakin gelap disertai turunnya hujan. Sampai di Stasiun MRT Changi, kita bisa merefund saldo sisa yang terdapat pada kartu EZ Link yang dipakai selama di Singapur. Sebenarnya saya tidak mau merefund sisa saldo saya sehingga kartu EZ Link nya bisa saya bawa pulang untuk kenang-kenangan, namun karena sisa saldonya cukup banyak, kurang lebih sekitar SGD 35 akhirnya saya merefund nya, sayang kalau gak dipakai uangnya, hehe.

Sampai di Bandara ternyata kami masih punya waktu sekitar 2 jam sebelum pesawat take off, jadinya saya pakai waktu tunggu itu untuk jalan-jalan berkeliling bandara yang memnag cantik itu, sambil melihat berbagai jenis oleh-oleh yang harganya bisa buat dompet kempes, hehe. Sekitar pukul 6 sore waktu Singapura, tibalah kami dipersilahkan untuk memasuki pesawat dan bersiap untuk take off. Ketika pesawat mulai berjalan menuju landasan pacu, saya sempat melihat pesawat dari maskapai Singapore Airline dengan tipe 4 engine aircraft yang biasa dipakai untuk penerbangan jarak jauh antar benua, sedikit berharap suatu saat nanti saya bisa menaiki pesawat jenis seperti itu untuk terbang ke Eropa, berkhayal lagi, hehe..

Cuaca di Bandar waktu pesawat yang kami tumpangi mulai take off  sore itu masih sedikit gerimis, sesaat setelah itu saya sudah bisa melihat deretan pulau yang sepertinya sudah masuk wilayah Indonesia, huh, rasanya belum cukup saya menjelajah Singapura karena masih banyak tempat yang belum bisa saya kunjungi, mungkin nanti saya bisa berkunjung lagi kesana, mungkin hanya untuk transit sebelum melanjutkan terbang ke Eropa, yah menghayal lagi, hehehe…

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, sepertinya saya salah pilih tempat duduk. Karena saya memilih tempat duduk di sisi kiri pesawat, jadilah saya hanya bisa melihat gumpalan awan hitam diluar jendela dari arah timur. Sementara jika duduk di sisi kanan pesawat, pemandangan diluar jendela jauh lebih indah. Karena kami terbang sikitar pukul 6 sore, artinya kami terbang disaat matahari terbenam dan saat itu menjadi pemandangan yang luar biasa, menikmati sunset dari ketinggian ribuan kaki, wow…

2 jam perjalanan, langit menjadi gelap dan gemerlapnya lampu malam dari Kota Jakarta sudah mulai terlihat dari udara, tandanya pesawat kami akan segera landing, dan beberapa saat kemudian, kami kembali menginjak tanah Jakarta, tanah Indonesia. Bandara Soekarno Hatta yang sebelumnya begitu terasa megah ketika saya pertama kali kesini sebelumnya, jadi terasa biasa saja setelah melihat Bandara Changi dengan segala kemajuannya, bukan bermaksud menjelekkan tapi untu saat ini, Bandara Soekarno Hatta masih kalah jauh dibanding Changi, tapi saya yakin bandara ini akan terus berbenah kedepannya untuk membuat nyaman orang yang berkunjung kesini.

Perbedaan itu akan tampak lebih terasa ketika saya naik bus antar terminal sebelum kami menaiki bus damri, jika di Singapura kita dimanjakan dengan kenyamanan sky train yang akan mengantar kita berpindah terminal di Bandara Changi, di Soekarno Hatta, kami harus berdesakkan menaiki bus antar terminal dengan kenyamanan yang sangat kurang karena 1 bus diisi dengan banyak penumpang, belum ditambah lagi dengan koper bawaan mereka, bahkan sempat terdengar celetukkan dari salah satu penumpang, “lho, bukannya kita tadi naik sky train, kok sekarang jadi berdesakan di bus..” hehe, yah begitulah keadaan bandara kebanggaan negeri ini, yang tentu saja hal semacam itu menjadi PR bagi pemerintah untuk bisa menambah fasilitas di Bandara ini ditambah tanggung jawab kita sebagai pengguna untuk ikut merawat dengan tidak merusak fasilitas yang sudah ada, karena saya yakin pasti ada wisatawan mancanegara yang akan berkata seperti orang yang saya ceritakan diatas, karena kebanyakan pesawat dari Eropa dan negara barat lain akan transit terlebih dahulu di Singapura sebelum ke Jakarta yang tentu saja penumpang bisa membandingkan keadaan 2 bandara antar negara yang bertetangga ini.

Jika di Singapura, dari bandara menuju ke pusat kota bisa dengan cepat ditempuh dengan menaiki MRT, lain halnya dengan disini, saya harus menunggu bus damri selama hampir 2 jam untuk menuju ke Bogor, yah waktu yang lama sodara-sodara, ditambah badan yang sudah begitu capek karena seharian jalan-jalan. Setelah menunggu cukup lama, sekitar jam 11 malam, akhirnya saya bisa sampai di kamar kos lagi yang artinya selesai sudah serangkaian perjalanan pertama saya keluar negeri, yang saya sendiri tidak menyangka bisa melakukannya secepat ini. Terima kasih banyak buat Benny, Ka Nurul, Shelly, Indra, Cha dan Mang Azwari atas jalan-jalannya, thanks for the superb trip guys… Saatnya merencanakan perjalanan selanjutnya….

Selesai….

 

Iklan