Kuliah Psikologi Industri seringkali terdapat beberapa hal menarik, sama seperti minggu kemarin. Pada pertemuan waktu itu seperti biasa kuliah diisi dengan tanya jawab dan terdapat beberapa pertanyaan yang ketika ditanyakan, ternyata butuh waktu sejenak untuk memikirkan jawabannya diiringi dengan munculnya kalimat di kepala, “oh iya ya, kok gak kepikiran..”. Salah satu pertanyaan yang ditanyakan oleh Pak Seta adalah, “Apa yang akan terjadi pada kalian disaat telah berumur 70 tahun?”, saat itu kami ssemua mulai sibuk mencari jawabannya termasuk saya, apakah saya masih akan sehat, masih bisa jalan, atau justru masih harus kerja, bahkan mungkin sudah terbaring lemah karena sakit. Memang masa depan adalah rahasia Tuhan tapi tetap saja perlu memikirkannya dan berupaya yang terbaik agar diusia senja, minimal kita bisa menikmati usaha yang kita lakukan dimasa muda. Kalau saat itu yang muncul dipikiran saya, ketika saya mulai memasuki usia senja, saya ingin seperti seorang mantan pelatih tim sepak bola favorit saya, siapa lagi kalau bukan Sir Alex Ferguson, terdengar muluk-muluk sepertinya, hehe. Apa yang membuat saya ingin seperti dia tentu saja karena meskipun sudah berusia tua, dia masih bisa menjadi orang yang berpengaruh di dunia sepakbola dan masih bisa melatih sampai umur 72 tahun, luar biasa menurut saya, bahkan setelah 3 tahun pensiun dari dunia kepelatihan, dia masih dipercaya untuk menjabat sebagai salah satu direktur klub, entah apa rahasianya sehingga diumur senja sekalipun, Fergie (Sapaan Sir Alex, red) masih saja terlihat sehat dan bugar, dan menurut saya, dia masih mau bekerja sebagai direktur bukan semata-mata karena kebutuhan, tapi lebih karena kecintaannya terhadap klub yang sudah dilatihnya selama 26 tahun.

Lalu bagaimana dengan kita, sudahkah kita mencintai pekerjaan kita?, apa pekerjaan yang kita lakukan sekarang merupakan pekerjaan impian kita? Atau kita rela capek kerja hanya semata-mata karena kebutuhan?. Suatu pertanyaan lain yang saya sendiri juga bingung untuk menjawabnya. Jadi sebaiknya kita mencintai apa yang kita kerjakan, atau kita mengerjakan apa yang kita cintai? Bingung lagi, hehe. Kecintaan seseorang terhadap kerjaannya bisa jadi timbul karena dia memperoleh kepuasan dari apa yang dia kerjakan. Menurut Hasibuan (2007) (7) kepuasan kerja pada sesorang bisa  dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:

1)  Balas jasa yang adil dan layak.

2)  Penempatan yang tepat sesuai dengan keahlian.

3)  Berat ringannya pekerjaan.

4)  Suasana dan lingkungan pekerjaan.

5)  Peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan.

6)  Sikap pimpinan dalam kepemimpinannya.

7)  Sifat pekerjaan monoton atau tidak.

Jika dikaitkan dengan pekerjaan saya saat ini, bisa dibilang saya belum mendapatkan kepuasan kerja secara maksimal. Bisa bekerja  ditempat kerja saya saat ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri buat saya, bahkan ketika dulu ada perekrutan PKL disekolah, saya tidak menyangka kalau akan lolos seleksi dan bisa lanjut bekerja sampai sekarang. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata ada beberapa hambatan dan kesulitan yang harus saya hadapi, yang membuat saya sendiri tidak mendapatkan kepuasan kerja secara sepenuhnya.

Memang banyak hal yang bisa dilakukan untuk bisa mendapat kepuasan kerja sesuai yang kita harapkan, mulai dari diskusi dengan atasan sehingga aspirasi kita bisa tersampaikan atau bahkan sampai keluar dari pekerjaan saat ini demi mencari pekerjaan yang sesuai dengan harapan. Seringkali ketidakpuasan kerja muncul karena kita merasa kita tidak mendapat imbal balik atas apa yang kita kerjakan, tapi disisi lain kita juga harus melihat kembali ke diri kita, apa kita sudah bekerja dengan benar dan tanggung jawab?, Apa kita sudah bisa melakukan pekerjaan yang sesuai dengan apa yang  diinginkan perusahaan?, tentunya kita harus mementingkan kewajiban dulu daripada hak. Sikap dari atasan juga sangat berpengaruh terhadap kepuasan kerja yang mana ketika seorang pekerja telah melakukan pekerjaan dengan baik, mendapat prestasi kerja, sudah selayaknya atasan memberi reward sebagai suatu bentuk penghargaan agar motivasi kerja tetap meningkat, disamping itu atasan juga perlu memberi peringatan ketika seorang karyawan melakukan kesalahan.

Meskipun sampai saat ini saya masih bingung mengenai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi, dengan mengikuti kuliah kemarin, saya jadi mulai memikirkan langkah apa yang sebaiknya saya ambil kedepannya terutama dalam masalah pekerjaan, dan sekali lagi saya mulai berpikir, kesulitan apa yang saya hadapi dalam pekerjaan, merupakan sebuah tantangan yang harus saya hadapi , atau justru hambatan yang akan terus menyulitkan saya dalam mencapai tujuan? Hanya waktu dan saya sendiri yang bisa menjawabnya..

Iklan