Sebagaimana kita ketahui, terutama kita yang beragama Islam, terdapat firman Alloh SWT yang menerangkan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi seorang khalifah (pemimpin) di muka bumi, Memang tidak mudah untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang baik, sebelum jauh menuju kesana, tentunya kita harus menjadi pemimpin terhadap diri kita sendiri. Kita harus mampu mengontrol dan mengatur diri kita dengan baik, sebelum kita mengatur orang-orang yang akan kita pimpin.

Setiap orang punya potensi menjadi pemimpin. Asalkan ada kemauan dan mau belajar, jiwa kepemimpinan dapat diperoleh melalui serangkaian pengalaman.Bagaimana bila harus memimpin diri sendiri? Kenyataannya memimpin diri sendiri (selfleadership) tidaklah mudah. Memahami karakter orang lain mungkin tidak jadi masalah, namun jika harus memahami diri sendiri terkadang seseorang mengalami cukup kesulitan. Jika sudah demikian, kuncinya tentu adalah kejujuran terhadap kekurangan dan kekuatan yang ada dalam diri kita masing-masing. Self leadership adalah proses mempengaruhi diri sendiri untuk menetapkan tujuan dan memotivasi diri yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Selfleadership seseorang akan mempengaruhi sikap mentalnya dalam melakukan pekerjaan dan penanaman nilai-nilai diri. Self leadership merupakan dasar dari segala bentuk kepemimpinan. Kepemimpinan diri berarti juga self discipline yang berarti menegakkan disiplin atas diri sendiri.

Jika kita kembali mengingat sejarah umat manusia, maka kita tentu ingat bahwa dengan kecerdasan hakiki yang dimilikinya Adam dinobatkan sebagai pemimpin bagi makhluk-makhluk yang lainnya.Hal ini menegaskan bahwa kecerdasan hakiki itu sangat erat kaitannya dengan tugas dan peran manusia sebagai pemimpin. Masalahnya, tidak semua orang berada dalam posisi atau jabatan sebagai pemimpin. Jadi,bagaimana kita bisa begitu yakin bahwa misi hidup yang kita emban itu adalah untuk menjadi pemimpin? Lagi pula, jika semua orang jadi pemimpin maka siapa yang akan dipimpin?

Kita sering keliru mengira bahwa kepemimpinan itu selalu berkaitan dengan jabatan atau kedudukan. Padahal, kepemimpinan yang sesungguhnya erat kaitannya dengan misi kita untuk memimpin diri sendiri atau yang biasa kita sebut sebagai self leadership. Setiap pribadi adalah pemimpin. Setidak-tidaknya menjadi pemimpin bagi diri sendiri, supaya jangan sampai gagal menjalani hidup. Untuk itulah pentingnya kecerdasan hakiki bagi setiap pribadi. Seseorang tidak mungkin bisa memimpin orang lain jika dia tidak mampu memimpin dirinya sendiri. Memang banyak pemimpin hebat bagi orang lain, tetapi hidupnya sendiri berantakan. Jadi, kelihatanya seseorang tidak harus mampu memimpin dirinya sendiri untuk bisa memimpin orang lain. Itu benar jika hanya berbicara soal kepemimpinan yang semu. Namun jika berpijak kepada prinsip kepemimpinan sejati tentu tidak akan berpikir demikian. Apa ciri kepemimpinan semu itu? Misalnya kita masih sering merasa hidup ini hampa. Mengapa hampa? Karena, rasa hampa ditimbulkan oleh perasaan tidak berguna. Setiap manusia dilahirkan dengan sebuah misi untuk menjadikan hidupnya berarti. Sementara itu, kehampaan tidak bisa menghampiri mereka yang mampu memberi arti kepada orang lain atau lingkungan tempat dirinya berada.

Berpijak pada prinsip ini, maka kita bisa mengetahui ciri kepemimpinan sejati, yaitu ketika merenung sendirian, kita menemukan jejak yang menunjukan bahwa kita bisa memberi arti bagi orang lain atau dunia yang kita tinggali. Kecerdasan hakiki bisa membantu kita memberi arti secara maksimal. Manusia memang ditakdirkan sebagai seorang pemimpin, tidak semua manusia ditakdirkan untuk bisa memimpin manusia lain. Menjadi bawahan sekalipun kita tetap bisa menjadi seorang pemimpin, yaitu seorang pemimpin yang akan memimpin dirinya dengan baik sehingga bisa ikut serta dalam keberhasilan pemimpinnya, bukankah keberhasilan seorang pemimpin juga ditentukan oleh keberhasilan anggotanya? Karena nasib pemimpin juga ditentukan oleh anggotanya sendiri.

Karyawan yang memiliki kecerdasan hakiki tinggi pasti bisa memahami tanggung jawab profesinya, bersedia meleburkan diri dengan tuntutan, dan konsekuensi profesi yang dipilihnya, serta berkomitmen untuk mempersembahkan prestasi terbaiknya.  (Kutipan dari buku “Natural Intelligence Leadership”)

Referensi:

http://dilahshadrina.blogspot.co.id/2013/04/self-leadership.html

 

Iklan