Bagi seorang karyawan seperti saya, tentu saja tanggal merah adalah salah satu hal yang paling ditungttgu, terlebih lagi saya juga kerja sambil kuliah yang memang tidak punya hari libur karena weekend diapakai untuk masuk kuliah. Makanya ketika lihat di kalender ada tanggal merah 2 hari beruntun, sudah terbayang rencana berlibur sejak beberapa minggu sebelumnya. Meningat keterbatasan biaya (seperti biasa, hehe), akhirnya dipilihlah untuk sekedar melepas penat di Bandung, yah kota ini memang dikenal sebagai salah satu tujuan wisata bagi warga Jabodetabek yang ingin berlibur tapi tidak punya waktu terlalu banyak, selain dekat, disana juga banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi. Kali ini saya kesana hanya berdua bareng Cha, meskipun ini bukan kali pertama kesana, tapi Bandung tetap menjadi salah satu kota tujuan favorit untuk melepas stres.

Sama seperti 2 tahun yang lalu, kami jalan-jalan ke Bandung menggunakan jenis transportasi yang sama. Pagi hari kami sudah menunggu KA Argo Parahyangan di Stasiun Gambir, waktu keberangkatan saya pilih yang paling sesuai karena saya juga harus menyiapkan waktu untuk berangkat ke Gambir dari Bogor. Suasana didalam gerbong kereta terasa sedikit berbeda karena di gerbong yang saya tumpangi ada banyak penumpang asing, ada yang bersama keluarga, ada juga yang bersama pasangannya, jadi serasa naik kereta di luar negeri, hehe.

Satu gerbong banyak bulenya hehe
Satu gerbong banyak bulenya hehe

2 tahun sebelumnya saya jalan-jalan ke Bandung dengan menyewa motor, untuk tahun ini juga demikian karena kemana-mana jadi lebih mudah, hanya saja ada hal yang membuat kesal dengan sewa motor kali ini. Beberapa minggu sebelumnya Cha sudah kontak dengan pihak rental motor dan sudah deal dengan harganya, tapi ketika kami memberi info bahwa kami sudah di perjalanan menuju Bandung, mereka justru menaikknan harga secara sepihak, sempat terjadi perdebatan mengenai harga karena tiba-tiba dinaikkan di hari H sampai telfon dimatikan oleh mereka. Karena kami tidak punya pilihan, sudah coba cari yang lain tapi sudah penuh semua akhirnya dengan berat hati kami setuju dengan penawaran mereka, yah kami tidak punya pilihan karena kami juga butuh. Berbeda dengan ketita kami pertama kali ke Bandung dulu, tidak ada masalah dengan harga sewa, tapi kami sudah kehilangan kontak mereka ketika mau memakai jasa mereka lagi.

Kejadian diatas tentu saja menjadi pembelajaran bagi saya, terlebih lagi dalam urusan sewa kendaraan, harus cari yang benar-benar terpercaya. Yah begitulah namanya jalan-jalan, bisa jadi apa yang kita rencanakan tidak berjalan sempurna, masalah seperti ini cukup merusak mood waktu itu, belum juga sampai tapi semangat sudah berkurang, tapi setelah beberapa menit tertidur di kereta, semangat kembali muncul hehehe. Sampai di Stasiun Bandung sudah tengah hari, setelah sholat, motor akhirnya diantar ke Stasiun, setelah memberi uang dan jaminan berupa 2 identitas diri, dimulailah perjalanan kami di Bandung.

Karena sudah siang, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Cisangkuy untuk mengisi perut. Masih sedikit ingat jalan menuju kesana karena dijalan akan melewati Gedung Sate tapi tepat saja beberapa salah jalan meski dibantu GPS, apalagi yang baca peta Cha, katanya cewek kurang jago baca peta (maap bukan bermaksud merendahkan Cha, hihihi..). Habis dari sini kami menuju salah satu hotel di daerah Lembang, Green Forest namanya, karena ini pertama kalinya kali saya menuju daerah sana, jadi sangat mengandalkan GPS, letak hotelnya ternyatatidak ada di jalan utama karena jalannya tidak terlalu lebar (atau memang jalan utama tapi seperti itu). Bagi saya yang belum pernah menginap di hotel bintang 3, tentunya sangat nyaman menginap disini, apalagi kalau di hotel bintang 5, carinya hotel murah mulu sih biasanya haha.

dsc01871
Makan siang dulu

Sebenarnya rencana saat itu, setelah dari hotel kami akan mengunjungi Kedai Kopi Armor. Tapi setelah lihat peta, lokasinya cukup jauh dari hotel karena berlokasi di Taman Hutan Raya Juanda, Dago, jadinya akhirnya saya cancel, terlebih lagi setelah tiduran di kamar hotel ternyata mata menjadi semakin mengantuk, mungkin efek capek, atau karena betah di kasur hotel entahlah hahaha. Setelah hari mulai malam, kami baru melanjutkan ke tempat berikutnya. Tujuan kami ke Bandung kali ini memang lebih ke wisata kuliner, jadinya malam itu kami pergi ke Kampung Daun Resto, cukup dekat dari hotel. Setelah memakai pakaian se-necis mungkin, kami berangkat. Tapi menginap disini saya jadi merasa tua karena ketika keluar saya disapa dengan panggilan Bapak dengan begitu ramah oleh salah satu staf hotel, serasa jadi orang penting, atau emang saya aja yang belum pernah menginap di hotel bintang 3 jadi berasa aneh, hihihihi.

dsc01872
Pemandangan yang begitu “hijau” dari balkon kamar hotel

Menuju Kampung Daun Resto hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja dari hotel, meskipun awalnya ragu ketika membaca papan penanda lokasi ini karena untuk menuju kesana melewati jalanan seperti di daerah perumahan, hanya saja suasananya cukup sepi saat itu, ditambah penerangan jalan yang sangat minim jadi tambah kurang yakin apakah ini memang jalan yang benar menuju kesana, atau papan penanda yang kami tadi lihat menunjukkan lokasi Kampung Daun yang berbeda dengan yang kami maksud. Memang melewati jalan ini kita akan banyak menjumpai papan petunjuk jalan menuju lokasi ini dan ternyata memang benar ini lokasinya, karena kami akhirnya menemukan loket untuk membayar karcis parkir. Lokasi parkir rupanya juga sudah dipenuhi dengan cukup banyak kedaraan dan benar saja ketika kami masuk, sebelum menuju tempat makan kami harus menunggu dulu karena tempatnya masih penuh. Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya giliran kami tiba.

dsc01891
Suasana Kampung Daun Resto dimalam hari

Kami diantar oleh salah seorang pegawai menuju sebuah saung disana, karena memang konsep restoran ini adalah konsep back to nature. Tiap saung juga memiliki kapasitasnya masing-masing, ada yang cukup untuk makan bersama keluarga, ada juga yang khusus untuk berdua. Didalamnya juga terdapat sungai kecil dan beberapa jembatan yang menghubungkan jembatan antar saung menambah suasana alam semakin terasa dari resto ini, terlebih lagi ketika malam terdapat hiasan lampu-lampu yang mempercantik resto ini. Saung yang kami tempati juga sangat nyaman, bahkan cukup nyaman jika dipakai untuk tidur karena ada bantal juga disana hehe. Yang unik dari tempat ini adalah ketika kita hendak memanggil pelayan, kita bisa menggunakan sejenis kentongan yang ada di tiap saung, jadi berasa tempat ronda malam hehe. Layaknya sebuah restoran, sering kali dibutuhkan waktu yang cukup lama sampai makanan datang, apalagi jika dalam keadaan ramai. Namun suasana yang nyaman tidak membuat hal tersebut menjadi masalah yang berarti. Dengan suasana malam yang seperti itu tentunya acara makan malam jadi terasa lebih menyenangkan.

dsc01914
Bule USA dengan penampilan yang begitu Indonesia

Sebelum pulang, kami sempat bertemu dengan pasangan bule dari Amerika yang juga habis makan disana. Katanya sih baru 3 bulan tinggal di Bandung, tapi Bahasa Indonesianya sudah cukup lancar, terlebih lagi mereka berdua berpakaian batik dan tamapak santun, sekilas sudah seperti orang asli Bandung, hanya wajah mereka saja yang bule, mungkin suatu saat giliran saya yang bisa mengunjungi negara mereka, aamiin.. Pulang dari sana, kami langsung kembali ke hotel dan tidur.

Bersambung…

Iklan