Tempat dewa dewi bersemayam, begitulah julukan terhadap tempat ini. Atau kita lebih mengenalnya dengan nama Dataran Tinggi Dieng. Tempat wisata yang terletak di wilayah Banjarnegara dan Wonosobo ini sebenarnya terletak tidak jauh dari kampung halaman saya yang berjarak kurang lebih 3 jam dari rumah saya, yang mana menjadikan tempat ini sebagai tempat wisata yang sudah biasa dikunjungi oleh para warga yang tinggal di kampung halaman saya, mungkin karena hal yang dianggap “biasa” itu, sejak kecil saya justru belum pernah mengunjungi tempat ini, atau emang saya aja yang kurang piknik dulu, hehe

Kesempatan saya untuk mengunjungi Dieng justru baru datang ketika saya sudah merantau di Bogor, tepatnya ketika ada kegiatan gathering departemen di tempat saya bekerja yang mana merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilakukan tiap tahun. Setelah melalui beberapa kali diskusi akhirnya ditetapkanlah bahwa tahun ini kami akan pergi ke Dieng. Karena departemen tempat saya bekerja terdapat cukup banyak orang, maka untuk berwisata kesana kami lebih memilih menggunakan agen travel sehingga segala sesuatunya sudah ada yang mengatur.

Mengingat jalan antar tempat wisata di daerah Dieng tidak terlalu besar, tentunya akan kesulitan jika kami menggunakan 1 bus untuk menuju kesana, jadinya kami menggunakan 2 mobil sejenis Mobil Elf untuk kesana, hanya saja karena kami semua tidak bisa berada di 1 kendaraan jadi terkesan kurang “ramai” disepanjang perjalanan, lebih penat juga karena tidak ada yang bisa dilakukan selain duduk sepanjang perjalanan, tidak seperti bus besar yang setidaknya bisa jalan-jalan di dalam bus ketika kaki mulai pegal hehe.

Jarak dari Kota Bogor menuju Dieng cukup jauh, kalau menurut Google untuk menuju kesana memerlukan waktu sekitar 12 jam jika berkendara melalui jalur tengah Pulau Jawa. Tapi tentu saja kami tiba disana lebih dari 12 jam karena beberapa kali berhenti untuk sekedar istirahat, namun selama perjalanan Alhamdulillah segalanya bisa berjalan dengan lancar dan mobil yang digunakan juga cukup nyaman. Kami berangkat dari Bogor sekitar pukul 7 malam dan sampai di Dieng sekitar pukul 10 pagi.

Udara dingin menyambut kami ketika mobil yang kami tumpangi mulai masuk daerah dataran tinggi Dieng, dengan melewati beberapa jalan menanjak dan disuguhi pemandangan pegunungan di kiri dan kanan. Cuaca saat sedang berawan namun tidak sampai mendung. Tujuan pertama kami disana tentu saja menuju homestay tempat kami akan menginap, tepatnya di Homestay Arjuna2. Saya dikejutkan dengan lantai di homestay ini. Ketika baru pertama kali melepas alas kaki dan menginjak lantainya, kaki serasa menginjak batu es, dingin sekali. Baru kali ini saya berkunjung ke suatu bangunan yang memiliki lantai sedingin ini, entah karena sudah cukup lama tidak ada yang tinggal disini atau memang udara di Dieng yang sangat dingin, air di kamar mandi juga tak mau kalah dingin, serasa menyentuh air es, bbbrrrrr..

DSCF2278
Foto dulu bersama pasukan

Homestay ini memiliki 2 lantai dan banyak kamar yang cukup ditempati oleh rombongan kami dengan diisi 3 orang tiap kamarnya, terdapat tv kecil di tiap kamar, ada runag tengah untuk berkumpul dan dapur. Tiap kamar kebanyakan memiliki kamar mandi dalam, dan beberapa ada yang dilengkapi dengan air panas. Bagi kamar yang tidak ada kamar mandinya juga bisa memakai kamar mandi di luar kamar yang ada di tiap lantai. Kalau mau mandi air hangat ya tinggal ikut numpang di kamar yang ada air panasnya, karena kebetulan saya dapat kamar yang hanya ada air dingin saja.

Sebelum kami mulai berkeliling dieng kami sempatkan diri dulu untuk mandi, awalnya saya mau ikut antri mandi air panas, namun akhirnya tidak jadi karena saya mau mencoba bagaimana gregetnya mandi air dingin disana, dan seperti yang sudah saya duga, terasa seperti mandi es, setelahnya kaki saya langsung terasa beku hahaha. Setelah mandi dan menunggu beberapa saat, makanan akhirnya datang. Setelah makan bersama barulah kami mulai bekeliling. Tujuan pertama yang akan kami tuju adalah Kompleks Candi Arjuna, tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap, perjalanan menggunakan mobil sekitar 5-10 menit saja.

IMG_9250
Lumayan lah jadi model 😀
IMG_3466
Pemandangan sekitar kompleks candi

Didalam kompleks candi ini terdapat beberapa candi, ada yang masih terlihat utuh, ada juga yang sudah tidak utuh lagi bentuknya. Kompleks candi ini merupakan candi Hindu yang meskipun jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Candi Hindu semacam Candi Prambanan, namun letak Candi yang ada di dataran tinggi tentunya memiliki keindahan tersendiri, apalagi disekelilingnya terdapat pemandangan pegunungan dengan udaranya yang sejuk. Saya selalu terbanyang masa lampau tentang kehidupan masayarakat ketika candi-candi ini baru dibangun ketika mengunjungi tempat semacam ini, pasti akan sangat menarik ketika kita bisa memakai mesin waktu dan dan dapat melihat kembali kehidupan di masa lampau, yah menghayal lagi..

Waktu mulai beranjak siang dan  kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi kedua yaitu Kawah Sikidang. Tak jauh dari tempat tadi, hanya membutuhkan waktu beberapa menit meuju kesana, namun ada sebuagh pemandangan yang cukup menarik perhatian saya ditengah perjalanan. Di salah satu persimpangan jalan saya melihat 2 orang turis asing yang sudah cukup berumur, mungkin sekitar hampir berusia 60 tahun, tapi pasangan kakek dan nenek ini tidak dalam rombongan, mereka hanya berdua dan sedang mengamati secarik peta. Salut kepada mereka, walau di usia yang sudah tidak muda, mereka berani travelling ke Indonesia yang bisa dibilang transportasinya belum memadai, bahkan mereka hanya bermodal peta untuk menuju tempat tujuan, tanpa takut tersesat atau takut terjadi apa-apa di jalan, yang pasti mereka hanya ingin menghabiskan masa tua bersama sambil jalan-jalan melihat dunia, romantis sekali, hehehehe.

DSCF2393
Entah ini foto gaya apa

Sebaiknya jika ingin ke Kawah Sikidang, lebih baik sediakan masker, bisa saja kita beli disana karena banyak yang berjualan masker, tapi daripada beli masker disana mendingan beli gorengan saja, hehe. Bau belerang disini cukup menyengat, tapi hanya di beberapa titik saja. Kareana disini merupakan kawah jadi ya pemandangannya kebanyakan asap, tapi pemandangan disekitarnya cukup bagus, apalagi kalau kita mau naik menuju bukit untuk melihat kawah ini dari tempat yang lebih tinggi. Setelah dari Kawah Sikidang, kita melanjutkan perjalanan lagi menuju Dieng Theater. Disini kita bisa menonton film mengenai Dieng, lumayan lah buat menambah wawasan, tapi karena jalan-jalan hari itu cukup melelahkan, ditambah suasan ruang yang gelap seperti bioskop, saya justru tertidur, bangun-bangun film sudah beres, hahaha.

DSCF2433
Foto bersama pasukan lagi, didepan teater dieng

Di depan bangunan ini juga ada flying fox, hanya saja saya tidak mencobanya, saya lebih memilih menghangatkan diri di sebuah warung sambil makan gorengan dan teh manis hangat. Sebenarnya saya sangat jarang makan gorengan, tapi makan gorengan di Dieng terasa sangat enak, mungkin karena suasananya atau memang penjual gorengan disana punya resep rahasia, entahlah. Setelah semuanya kumpul, kami lanjut menuju Batu Ratapan Angin, sebuah bukit tak jauh dari bangunan teater tadi, cukup berjalan kaki dan menaiki beberapa anak tangga menuju bukit-bukit batu. Capek naik anak tangga akan seketika hilang ketika kita sampai diatas, dari atas sini kita bisa melihat Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Subhanallah pemandangan disini sangat menyejukkan mata, kita bisa melihat telaga yang dikelilingi pepohonan dan pegunungan di sekelilingnya, pokoknya kalau pergi ke Dieng, jangan lewatkan tempat ini, sepertinya betah berlama-lama disini, apalagi jika cuacanya cerah sehingga pemandangan bisa lebih jelas.

DSC_0331
Telaga warna dan telaga pengilon dari atas

Telaga Warna adalah tempat terakhir yang akan kami kunjungi di hari pertama, mekipun sebenarnya saya inigin lebih lama lagi berada di bukit ini, karena waktu sudah mulai sore, kami harus bergegas menuju kesana sebelum tutup. Dan benar seperti yang saya duga, telaga ini memang lebih bagus ketika dilihat dari ketinggian. Didalam hutan sekeliling telaga ini juga ada beberapa gua yang sayangnya tidak bisa dimasuki, konon sering dipakai buat bertapa, entah untuk mencari pencerahan atau apa. Tapi kalau boleh memilih, sepertinya saya lebih memilih untuk melihat telaga ini dari bukit, terlihat jauh lebih indah.

Hari semakin sore, kami kembali ke penginapan untuk mandi dan makan. Masuk ke penginapan ternyata masih sama saja, lantainya dingin seperti es, apalagi airnya bbbrrr… Untuk acara malam, seperti biasa, kami memakainya untuk acara barbeque dan ada game juga. Acaranya dilakukan di sebuah kafe tak jauh dari penginapan, karena disitu juga ada halaman yang bisa kami gunakan. Setelah main game,  tidak usah diceritakan karena tim saya kalah hahaha, lanjut makan sosis bakar dan ada acara kejutan juga. Karena hari itu juga bertepatan dengan ulang tahun atasan saya (sebenarnya tidak tepat di hari itu ultahnya, hehe) kami memberikan kejutan kecil untuk beliau, awalnya sih mau ngerjain dengan melumurinya tepung tapi karena ada segan terhadap atasan hahaha, jadi acara kotor-kotorannya tidak berjalan seperti kalau kita mengerjai teman sendiri, tapi tetep seru sih hehe. Selamat Ulang tahun Mas Galih, tetaplah menjadi inspirasi buat saya dan teman-teman yang lain.. 🙂

DSCF2575
Menunggu sosis bakar
DSCF2694
Kelihatan lah yang mana yang ulang tahun, hehe

Tak terasa malam sudah semakin larut, kami harus punya waktu tidur cukup karena jam 3 kami harus sudah bangun untuk menuju Bukit Sikunir. Tapi ternyata saya tidak bisa tidur nyenyak malam itu, hhmmmm. Sebelum menuju Bukit Sikunir, jangan lupa untuk memakai pakaian hangat, baju berlapis juga boleh, bawa sarung tangan dan penutup kepala juga dianjurkan, bagi yang tidak memakainya dari rumah, bisa juga membeli disekitar sini, jadi tenang banyak yang jual. Oke, stelah semuanya siap, kami naik mobil beberapa menit untuk menuju titik pendakian bukit, suasana pagi itu ternyata sudah cukup ramai. Untuk menuju puncak kita harus melewati banyak anak tangga dengan jalan yang gelap tanpa penerangan, di beberapa titik juga terdapat jalan yang kurang rata dan berbatu, jadi harus hati-hati, jangan lupa untuk membawa alat penerang agar bisa melihat kondisi jalan. Tapi naik anak tangga semacam ini juga ada untungnya karena kita bisa berkeringat, jadi lumayan lah untuk menghangatkan badan.

IMG_4097
Pemandangan Sindoro Sumbing dari Sikunir

Untuk saya yang belum pernah naik gunung, perjalanan kesini ternyata cukup melelahkan, baru bukit udah capek, apalagi naik gunung hehe. Sesampainya di puncak, masih ada waktu beberapa saat sebelum matahari terbit. Langit malam saat itu dipenuhi bintang dengan kelap-kelip lampu dari rumah-rumah warga dibawah bukit. Sunrise saat itu tidak terlihat sempurna karena masih ada awan yang menutupinya, tapi pemandangan dari tetap menakjubkan dengan disuguhkan pemandangan gunung Sindoro- Sumbing didepan mata. Yah mata kita benar-benar dimanjakan dengan pemandangan seperti itu. Saya jadi mengerti, kenapa banyak orang yang repot-repot naik gunung, sudah gunungnya tinggi, melawan udara dingin dengan tas carrier besar di punggung. Ternyata dibalik semua itu kita bisa melihat pemandangan luar biasa seperti ini ketika kita sampai di puncak. Pemandangan dari puncak bukit saja seperti itu bagusnya apalagi dari puncak gunung, mungkin suatu saat nanti saya harus mencobanya.

Turun dari Bukit Sikunir juga menandankan bahwa kami sudah harus kembali pulang ke Bogor karena pagi itu juga setelah sarapan dan mandi kami harus sudah check out dari penginapan. Sebelum pulang tentunya sempatkan pula untuk membeli oleh-oleh, kami juga sempat mampir ke Wonosobo terlebih dahulu untuk makan mie ongklok disana, lagi-lagi saya menemukan gorengan yang rasanya sangat enak disana, hehehe. Dari Wonosobo, tujuan selanjutnya tentunya menuju Bogor untuk pulang dan Alhamdulillah sekitar pukul 2 pagi kami sudah sampai disana, dengan beberapa kali berhenti tentunya jadi terasa lebih lama, tapi secara keseluruhan, dengan biaya 700 ribu saya bisa mendapatkan liburan ke Dieng yang memuaskan, terima kasih kepada rekan-rekan panitia gathering yang telah bekerja demi kelancaran acara kita tahun ini. Dieng memang pantas kalau dijuluki tempat bersemayam dewa-dewi, negeri diatas awan ditengah Pulau Jawa…

 

Iklan