Tidak pernah sebelumnya saya benar-benar ingin mengunjungi Malaysia sebelum tau mengenai kota yang satu ini, yaitu kota Melaka, atau sering juga disebut Malaka dan Malacca dalam Bahasa Inggris. Sebelumnya saya tidak tau kalau Malaka adalah nama sebuah kota, setau saya Malaka hanyalah nama selat saja yang ternyata selat ini berada dekat dari kota itu, mungkin itulah kenapa selat ini diberi nama sesuai dengan nama kota nya. Hanya berawal dari melihat foto salah satu sudut kota Melaka di Google, sejak saat itu saya benar-benar penasaran ingin mengunjunginya. Semakin sering saya baca-baca blog yang bercerita tentang jalan-jalan di Melaka maka semakin besar pula keinginan saya untuk bisa pergi kesana. Kesempatan itu hadir ketika ada promo tiket murah dari maskapai merah Malaysia di pertengahan tahun 2016 yang mana langsung saya manfaatkan untuk membeli tiket Jakarta – Kuala Lumpur keberangkatan bulan Maret 2017 dengan harga promo tentuya.

Saya mengunjungi Malaysia bersama Cha dan Ali. Ini merupakan perjalanan ke luar negeri pertama bagi Ali jadinya kami memutuskan untuk sekalian jalan-jalan ke Singapura dan pulang ke Jakarta dari sana. Kebetulan ada 4 orang teman kuliah saya yang juga akan berkunjung ke Singapura jadi kami memutuskan untuk mengambil penerbangan yang sama ketika pulang jadi bisa pulang barengan bertujuh. Saya juga berencana mengunjungi beberapa tempat yang belum sempat saya kunjungi ketika saya dan Cha pergi ke Singapura 1,5 tahun sebelumnya.

Kami beangkat hari Minggu pagi dari Soekarno-Hatta dan penerbangan saat itu berjalan lancar sampai kami mendarat di Bandara KLIA2 Kuala Lumpur (Bandara KLIA1 hanya untuk maskapai full service) tepat waktu. Sesuai yang saya baca-baca sebelumnya, bandara ini ternyata memang besar dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berjalan dari gate kedatangan menuju imigrasi. Tapi tenang disini banyak sekali terdapat travelator jadi jalan jauh juga tidak terlalu capek, terdapat banyak papan penanda juga jadi jangan khawatir tersesat.

Suasana imigrasi saat itu cukup ramai dan syukur bisa dilewati dengan lancar. Setelah melalui imigrasi kami langsung jalan terus menuju ujung bandara kemudian turun ke lantai dasar tempat penjualan tiket bus ke berbagai tempat di Malaysia. Oh iya, karena kami berangkat ke Malaysia hari Minggu, maka untuk hari pertama disini kami putuskan untuk langsung menuju Melaka setibanya kami di bandara, karena dari info yang saya dapat, tiap akhir pekan di Melaka ada semacam pasar malam di sekitar Jonker Street yang tidak ada di hari-hari lain.

20170326132853_IMG_0292
Interior bus menuju Melaka

Di loket penjualan kami beli 3 tiket bus untuk pemberangkatan tercepat tapi kami hanya diberi 1 tiket saja, sisanya diminta beli langsung ke sopir ketika bus sudah ada, entahlah kenapa kami tidak langsung diberi 3 tiket saat itu. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya bus tiba, kami beli 2 tiket langsung di sopir dengan selisih harga RM 1 saja dibanding beli di loket. Oh iya, konfigurasi kursi penumpang bus ini cukup unik seperti yang tampak di foto, tapi tetap nyaman untuk dinaiki. Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya bus berangkat, telat 5 menit dari jadwal. Perlahan-lahan, suasana keramaian di sekitar bandara berubah menjadi pemandangan hamparan perkebunan kelapa sawit di sekitar jalan tol.

Waktu tempuh untuk menuju Melaka membutuhkan sekitar 3 jam perjalanan tergantung kondisi jalan. Pemandangan mulai berubah ketika kami sudah mulai masuk wilayah Negara Bagian Melaka, tampak rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan yang meskipun tampak sederhana tapi hampir tiap rumah terdapat mobil yang terparkir di halamannya, mungkin mobil sudah menjadi kendaraan utama bagi waga disini dibandingkan di Indonesia yang lebih memilih motor. Tapi yang pasti perjalanan antar kota dengan transportasi darat semacam ini menjadi hal yang sangat menarik bagi saya karena saya bisa melihat sisi lain dari sebuah negara yang saya kunjungi.

Cuaca cerah dan panas beganti menjadi mendung ketika kami sudah mendekati kota Melaka, hujan pun  sempat turun dengan derasnya, tapi begitu kami sampai di Terminal Melaka Sentral, hujan sudah mulai reda. Terminal ini merupakan tempat pemberhentian bus-bus yang menuju dan berangkat dari Kota Melaka menuju kota-kota lain di Malaysia, ada juga bus yang menuju Singapura dari sini. Terminal ini tidak begitu besar, didalamnya terdapat banyak kios-kios dan tempat makan yang sekilas tampak seperti pasar tapi sangat bersih dan tertib. Tidak ada pengamen, calo dan antek-anteknya disini jadi bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung, semoga terminal-terminal bus di Indonesia bisa meniru terminal semacam ini.

Karena kami belum makan siang, sebelum menuju pusat kota, kami makan dulu di salah satu tempat makan di terminal ini, sebuah tempat makan Melayu dengan masakan yang bercita rasa mirip dengan masakan Indonesia dengan harga yang terjangkau pula. Cukup membayar sekitar 25.000an (jika di rupiahkan) untuk 1 porsi makanan dan minuman. Selesai makan, kami langsung menuju ke pusat kota, wisatawan yang mengunjungi Melaka biasanya akan menginap di sekitar “Bangunan Merah” karena memang tempat itu dan sekitarnya yang menjadi daya tarik utama dari kota ini. Untuk menuju kesana dapat menaiki bus Panorama no 17 yang merupakan bus dalam kota yang memiliki rute kesana. Bus ini tampak seperti bus kota di Singapura meskipun agak usang tapi tetap nyaman dinaiki, bus juga berangkat sesuai jadwal dari terminal meskipun belum penuh dan ongkos dibayar langsung ke sopir ketika kita hendak naik, kalau tidak salah tarifnya hanya sekitar RM 1 saja. Selain naik bus ini kita juga bisa menggunakan taxi maupun uber, tapi bagi saya kesempatan untuk menaiki transportasi umum di kota kecil di luar negeri tentunya merupakan suatu hal yang patut dicoba, apalagi tarifnya yang murah.

Mendekati pusat kota Melaka, mulai tampak bangunan tua berjejer di sepanjang jalan. Yah itulah alasan utama kenapa saya begitu ingin mengunjungi kota ini. Karena banyak bangunan tua bersejarah yang masih digunakan dan terawat sampai sekarang menjadikan kota ini mendapat penghargaan World Heritage City dari UNESCO. Tempat pertama yang kami tuju disana adalah menuju hotel, kami menginap di The Sterling Hotel dan menempati kamar triple dengan harga hanya sekitar RM 195 saja semalam untuk ukuran hotel bintang 4 dengan bath up di kamar mandi dan sarapan pagi, jadi per orang hanya sekitar Rp 200.000 saja, kapan lagi bisa menginap di hotel semacam ini ketika backpacker-an haha. Hotel ini terletak tidak jauh dari halte tempat kami turun dari bus dan juga dekat untuk menuju beberapa tempat wisata utama di kota ini. Pusat kota Melaka tidak terlalu besar jadi cukup berjalan kaki saja sudah bisa berkeliling ke tempat-tempat menarik disini.

20170326170103_IMG_0312
Masih banyak burung-burung liar disini

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, wisatawan disini biasanya akan mengunjungi tempat-tempat wisata disekitar “Bangunan Merah” maka dari hotel kami langsung berjalan menuju kesana. Susana kota saat itu cukup sepi karena hujan baru saja reda, kami berjalan menyusuri tepi Sungai Melaka yang dipinggirannya terdapat area pejalan kaki yang cukup lebar dengan beberapa tempat makan di pinggir sungai, dipadukan dengan bangunan tua di sekelilingnya benar-benar menambah cantik pemandangan kota ini. Disini juga banyak terdapat burung-burung merpati liar di taman kecil pinggir jalan yang mungkin kalau di Indonesia sudah banyak ditangkap warga untuk disembelih, hehe.

20170326172143_IMG_0348
Malacca River Walk
20170326173517_IMG_0376
Victoria Fountain

Kami berjalan menyusuri tepi sungai sampai kami menemukan bangunan Hard Rock Cafe Melaka, dari sini kami belok ke arah kiri menuju Bangunan Merah. Kompleks bangunan ini memang merah secara harfiah karena memiliki tembok berwarna merah. Di area ini terdapat Dutch Square, air mancur Victoria, Gereja Christ, Menara Jam Melaka dan The Stadhuys yang merupakan bangunan tua bekas kediaman gubernur Belanda pada jamannya. Suasana sore saat itu mulai tampak ramai dengan banyaknya wisatawan asing, disini kita juga bisa menaiki sejenis becak yang dihias dengan hiasan warna warni dengan musik yang diputar dengan keras, kita bisa menyewanya untuk berkeliling tapi saya lebih tertarik untuk jalan kaki saja. Menjelang matahari terbanam kami berjalan lagi menyusuri tepi sungai di samping Jalan Merdeka, kami menikmati suasana sore disana sampai malam tiba.

20170326175052_IMG_0397
Suasana sunset dekat Hotel Casa Del Rio
20170326190824_IMG_0433
Pasar malam Jonker Street yang ramai

Untuk makan malam kami mencari makan di Pasar Malam di sepanjang Jonker Street, letaknya tidak jauh dari Bangunan Merah. Di sepanjang jalan ini terdapat banyak pedagang yang menjual berbagai barang mulai dari pernak-pernik, makanan, minuman, pakaian dan sebagainya. Khusus untuk hari Sabtu dan Minggu malam, jalanan ini ditutup untuk kendaraan, sehingga sepanjang jalan dapat dijadikan tempat untuk orang-orang berjualan dan juga dipenuhi dengan pejalan kaki yang berlalu-lalang. Saking banyaknya orang berjualan makanan malah membuat saya bingung mau mencoba yang mana, mau coba satu persatu juga bisa asal perut muat hehe.

20170326202612_IMG_0466
Pemandangan dari Malacca River Cruise

Sebelum kami pulang menuju hotel, malam itu kami sempatkan juga untuk menaiki Melaka River Cruise, menyusuri sungai Melaka menggunakan perahu. Harga tiketnya sekitar RM 20 kalau tidak salah untuk menusuri sungai selama sekitar 45 menit. Di sepanjang jalan kami juga dijelaskan oleh guide mengenai bangunan-bangunan bersejarah yang kami lewati di sekitar sungai, bahkan di kota ini juga ada Kampung Jawa yang dulunya merupakan tempat orang-orang Jawa tingaal yang dibawa dari Indonesia oleh Belanda untuk kerja paksa disini. Menaiki perahu menyusuri sungai dan menikmati suasana malam Kota Melaka benar-benar kesempatan yang tak boleh terlewatkan ketika berkunjung kesini sekalian melemaskan otot-otot kaki sambil duduk di perahu menikmati indahnya malam.

20170326205035_IMG_0471
Susana malam yang buat males pulang
20170326210413_IMG_0483
Kerlap kerlip lampu depan Hotel Sterling

Malam semakin larut, badan juga sudah mulai capek, saatnya kami kembali ke hotel untuk beristirahat, tapi tetap saja tubuh ini terasa belum mau kembali ke hotel malam itu, itulah kenapa saya kembali ke hotel paling belakangan untuk sekedar menikmati pemandangan malam di sekitar Bangunan Merah dan menikmati suasana malam yang saat itu sudah mulai sepi. Beberapa saat kemudian akhirnya saya benar-benar kembali ke hotel. Setelah mandi dan sholat, secara ajaib saya masih sempat mengerjakan tugas kuliah dulu sebelum tidur, liburan ala mahasiswa ya gini haha.

Rasa lelah di hari pertama jalan-jalan di Malaysia pun seakan mulai hilang ditelan tenang nya suasana malam Kota Melaka saat itu, bersamaan dengan terpejamnya mata yang mulai membawa saya ke alam mimpi.

20170327061628_IMG_0494
Pagi yang tenang disekitar Malacca River Walk
20170327062341_IMG_0501
Salah satu bangunan pinggir sungai

Keesokan harinya, sambil menunggu waktu sarapan yang disediakan hotel, saya sempatkan untuk jalan-jalan keliling keluar hotel sendirian karena Cha dan Ali tidak ikutan. Jalanan kota saat itu masih sangat lengang, hanya beberapa toko yang sudah buka dan satu dua kendaraan yang lewat. Pagi itu saya kembali menyusuri jalanan di tepi sungai Melaka menuju The Stadhuys, tampak beberapa orang lansia warga lokal yang sedang melakukan senam pagi disekitar situ, juga tampak beberapa orang yang sedang berolahraga, sepertinya hanya saya yang tidak berpakaian olah raga saat itu.

20170327064245_IMG_0516
Reruntuhan Benteng A Famosa
20170327064141_IMG_0515_1
Udara segar dari Bukit St Paul

Saya berjalan menuju ke sebelah belakang The Stadhuys menaiki bukit St. Paul. Di atas bukit ini terdapat reruntuhan benteng A Famosa dan Gereja St. Peter. Dari atas bukit ini kita bisa melihat pemandangan perumahan warga dan Selat Melaka dari jauh, menara Taming Sari juga tampak dari sini. Udara saat itu masih segar, apalagi lalu lintas di sekitar sini juga tidak terlalu ramai dengan kendaraan bermotor, rasanya betah saya berlama-lama disini menikmati suasana pagi yang begitu tenang, dikelilingi bangunan-bangunan tua bersejarah. Hingga pada akhirnya waktu sudah hampir menunjukkan jam 08.00 waktu Malaysia, sudah saatnya saya kembali ke hotel untuk sarapan. Saya berjalan melewati jalan yang berbeda menuju hotel, melewati bangunan kantor pemerintahan setempat yang sudah mulai didatangi pegawainya, juga melewati perumahan warga lokal keturunan India yang sudah sibuk memulai hari di pagi itu.

Untitled
Pagi hari di area Red Square

Kami check out  dari hotel lebih awal karena kami akan kembali ke Kuala Lumpur. Sebelum pergi menuju terminal Melaka Sentral, kami kembali berjalan menuju sekitar Jonker Street untuk membeli beberapa souvenir. Berjalan di kawasan ini ditengah kondisi jalanan yang sepi kendaraan seolah-olah membuat kami berkunjung ke masa lalu. Di sekitar sini banyak sekali bangunan rumah dan pertokoan bergaya Cina yang masih mempertahankan bentuk aslinya, yah waktu seakan berjalan mundur saat itu. Kami juga sempat makan-makan ringan di Mamee Jonker House, salah satu tempat makan yang terkenal disini. Kami pergi menuju terminal Melaka Sentral menggunakan uber saat itu, karena jika naik bus akan memakan waktu lama mengingat rutenya yang memutar sebelum menuju terminal, karena kami tidak punya banyak waktu jadinya kami menaiki kendaraan tercepat menuju terminal.

20170327113339_IMG_0527
I love this city

Lucunya, kami justru dikira Singaporean oleh driver uber saat itu, yah mungkin karena jarang sekali ada turis Indonesia disini, bahkan selama kami disini tidak bertemu satu orang pun turis dari Indonesia. Driver uber yang kami tumpangi ini merupakan pria paruh baya yang ramah, hingga kami terbawa dalam obrolan hangat disepanjang jalan menuju terminal. Sesampainya di terminal kami langsung mencari loket penjualan tiket bus menuju Kuala Lumpur, ada banyak perusahaan bus yang melayani rute ini, tinggal sesuaikan dengan waktu keberangkatan yang kita inginkan. Bus yang kami tumpangi juga berangkat tepat waktu dan seiring dengan berjalannya bus menuju Kuala Lumpur, maka berakhirlah jalan-jalan kami di Melaka, memang saya belum mengunjungi semua tempat menarik di kota ini karena keterbatasan waktu, tapi dengan begitu, saya akan selalu punya keinginan untuk kembali kesini. Melaka, kota kecil penuh dengan bangunan tua yang membuat saya jatuh cinta dan pada akhirnya membuat saya menyesal tidak tinggal lebih lama disana.

Bersambung…

 

 

Iklan