Saya terbangun dari tidur ketika bus yang kami tumpangi mulai memasuki kota Kuala Lumpur. Pemandangan disekitar mirip sekali dengan pemandangan di Jakarta, bahkan radio di bus saat itu juga beberapa kali memutar lagu-lagu musisi Indonesia, musik Indonesia tampaknya cukup populer disana. Bus yang kami tumpangi ini nantinya akan berhenti di terminal Bandar Tasik Selatan. Kesan terminal yang modern sudah terasa begitu kami mulai memasuki pintu masuk. Didalamnya terdapat pula berbagai macam pertokoan dan terhubung langsung dengan stasiun kereta KMT, lagi-lagi saya dibuat kagum dengan tempat publik di negeri ini. Dari sini kami menaiki kereta KMT menuju stasiun KL Sentral dan melanjutkan perjalanan menaiki monorail menuju stasiun Bukit Bintang. Stasiun KL Sentral merupakan pusatnya stasiun di Kuala Lumpur, bangunannya sudah menyerupai bandara karena sudah sangat modern. Baik terminal Bandar Tasik Selatan maupun KL Sentral, didalam kedua tempat ini, terdapat banyak papan petunjuk arah yang memudahkan pengunjung untuk menuju tempat yang dituju.

Kami menginap di Le Apple Boutique Hotel selama di Kuala Lumpur, letaknya tak jauh dari stasiun monorail Bukit Bintang. Di kawasan ini terdapat banyak sekali pusat perbelanjaan dengan merek-merek kelas dunia, jadi suasananya sangat ramai, begitu kontras dengan Malaka, saya justru merasa seperti berada di Jakarta, hanya saja disini lebih tertib dan rapi. Sejak pertama memasuki kota ini, sepertinya Kuala Lumpur memang tidak begitu terasa spesial buat saya, karena memang kota ini bukan merupakan kota yang benar-benar ingin saya kunjungi sebelumnya, tidak seperti Malaka. Tapi bukan berarti tidak menyenangkan untuk jalan-jalan disini.

Sore harinya setelah kami istirahat sebentar di hotel, kami mengunjungi kawasan Petaling Street. Untuk menuju kesana kita bisa menaiki Bus Go KL yang bisa ditumpangi secara gratis kemanapun sepanjang rute yang dilalui. Di dekat hotel juga terdapat salah satu halte yang dilalui bus ini tinggal berjalan menuju sebrang jalan didepan hotel. Pastikan kita naik bus sesuai dengan nomor rute yang melewati halte tempat yang ingin kita tuju (untuk rute lengkapnya bisa dicari di Google). Mungkin karena bus ini gratis jadi suasana didalam bus begitu penuh bahkan berdesakan, tapi meskipun gratis, bus ini tetap terawat dan terlihat seperi baru, kalau ingin dapat pemandangan yang luas meskipun berdesakan, tempatilah posisi bagian depan bus dekat pengemudi, dari sini kita bisa melihat kearah depan melihat suasana jalanan kota Kuala Lumpur yang sore itu tampak cukup padat, mungkin karena jam pulang kantor.

Salah satu tujuan saya mengunjungi Petaling Street adalah untuk membeli air mata kucing (bukan berarti secara harfiah, hehe). Ini merupakan sejenis minuman khas berisi air gula jawa dengan beberapa butir kelengkeng, rasanya manis dan segar, cukup untuk menghilangkan dahaga di tengah udara panas Kuala Lumpur. Petaling Street merupakan jalan yang berisi banyak sekali penjual yang menurut saya mirip pasar tradisional. Kami berjalan dari ujung ke ujung kawasan ini, juga sempat makan di salah satu tempat makan disana. Cha dan Ali juga sempat membeli oleh-oleh disini tapi ternyata tidak ada oleh-oleh yang cukup menarik buat saya.

Kata orang, belum lengkap rasanya pergi ke Kuala Lumpur kalau belum mengunjungi Menara Petronas, tempat ini sepertinya lebih enak dikunjungi di malam hari karena udara tidak terlalu panas dan kita dapat melihat pertunjukkan air mancur di belakang menara Petronas dengan lampu warna-warni. Untuk menyingkat waktu, kami kesana menggunakan uber. Suasana saat itu cukup ramai disana dipenuhi dengan warga lokal maupun wisatawan mancanegara, tempat ini merupakan tempat yang cocok untuk sekedar duduk-duduk melepas lelah setelah seharian jalan-jalan sambil menikmati suasana malam. Disana juga kami beremu dengan warga lokal bernama Mr. Steve dan sempat berbincang-bincang dengannya, yah darinya, saya jadi mengerti beberapa hal mengenai kehidupan warga lokal disana.

Malam itu tiba-tiba langit menjadi agak mendung, maka kami memutuskan untuk kembali ke kawasan Bukit Bintang menggunakan Bus Go KL lagi. Sebelum kami kembali ke hotel setibanya di Bukit Bintang, kami sempat berjalan menuju Jalan Alor, kawasan yang cocok untuk berwisata kuliner. Semakin malam, kawasan ini semakin ramai pengunjung. Sayangnya kami sulit menemukan tempat makan halal disana jadi kami hanya membeli es krim saja sebagai cemilan. Hujan gerimis yang turun saat itu membuat kami harus segera kembali ke hotel, badan juga sudah mulai capek, jauh lebih capek dibanding hari sebelumnya, seakan badan ini terasa ikut bergerak cepat mengikuti dinamisnya kota ini.

Untungnya ketika hujan turun dengan derasnya, kami bertiga sudah sampai di hotel, setengah hari di Kuala Lumpur pun sudah dilalui. Sebenarnya masih banyak tempat yang masih bisa dikunjungi di kota ini (setidaknya seperti itu ketika saya masih di Jakarta sebelum berangkat ke Malaysia), namun setelah mengunjungi Melaka, tempat-tempat di kota ini seakan sudah menjadi kurang menarik bagi saya, bahkan sedikit menyesal, seharusnya saya menghabiskan waktu lebih lama disana, hehe. Malam semakin larut, hujan yang semakin deras mengguyur Kuala Lumpur saat itu seakan membuat kami lebih cepat terlelap dalam tidur, menanti petualangan apa yang akan kami hadapi keesokan harinya.

Pagi hari di hari ketiga, kami lebih memilih memanfaatkan waktu untuk beristirahat di hotel sambil ditemani dengan sarapan nasi lemak yang dibeli Ali didepan hotel. Sepertinya kami butuh waktu istirahat tambahan pagi itu karena siang harinya, kami akan terbang menuju Singapura. Setelah check out, kami kembali menaiki monorail menuju KL Sentral. Rencana awal sebenarnya kami ingin menggunakan bus menuju KLIA2, tapi karena kami khawatir waktunya mepet dan daripada harus terburu-buru di bandara, akhirnya kami menaiki kereta KLIA Express menuju kesana, cukup menguras kantong memang harganya tapi sangat efektif untuk mempersingkat waktu tempuh yang hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja ke bandara.

Proses imigrasi dan check in berjalan sangat lancar saat itu sehingga kami punya cukup waktu untuk makan siang dan sholat sebelum waktu keberangkatan pesawat tiba. Lagi-lagi kami harus berjalan kaki cukup jauh untuk menuju gate tempat pesawat yang akan kami tumpangi. Sebelumnya kami juga sempat membeli bagasi tambahan AirAsia karena khawatir barang bawaan kami melebihi berat maksimal yang diijinkan untuk dibawa ke kabin, apalagi tas punya Cha dan Ali yang semakin berat setelah ditambah beberapa oleh-oleh. Namun yang terjadi justru tas kami masing-masing masih dibawah 7 Kg beratnya yang artinya masih diijinkan dibawa ke kabin. Tapi karena sudah terlanjur beli bagasi jadinya ya sudahlah, hitung-hitung mengurangi berat bawaan dari konter check in menuju gate, hehe.

Dan pada akhirnya sudah dua kota kami kunjungi di Malaysia, dua kota yang saling bertolak belakang satu sama lain. Jika Kuala Lumpur tidak terasa begitu spesial bagi saya, maka lain halnya dengan Malaka yang terasa begitu berkesan bagi saya. Yah, memang tidak banyak tempat yang bisa saya kunjungi mengingat waktu yang tersedia sangat singkat selama saya di Kuala Lumpur. Negeri satu rumpun yang selalu menjadi saingan bagi Indonesia ini ternyata menyimpan banyak cerita menarik didalamnya, negeri yang sebelumnya kurang menarik bagi saya untuk dikunjungi, ternyata justru membuat saya penasaran untuk berkunjung ke kota-kota lain disana setelah saya begitu terkesan dengan kota Malaka.

Beberapa saat menunggu, akhirnya pesawat yang kami naiki lepas landas sesuai jadwal tanpa delay. Diawali dengan peragaan keselamatan oleh pramugari dan pramugara, pesawat berwarna merah itu mulai terbang tinggi, hingga pada akhirnya daratan Negeri Jiran mulai tak terlihat dari jendela pesawat, tertutup oleh gumpalan awan putih dan berganti dengan pemandangan sebuah daratan kecil dibawah sana, yang pada akhirnya saya dan Cha bisa kembali menginjakkan kaki di Changi, we meet again Singapore…

Bersambung…

Iklan